Tukang kue, Pengemis dan hati
Pribadi March 29th, 2008
Beberapa saat yang lalu, aku berjalan di pasar besar Malang, masuk dilantai dasar clingak-clinguk mencari temen ku yang jualan kue basah dan sayur. “Bedak sederhana” (baca : stand) ukuran 3 x 5 m ditempatinya berjualan bersama ibunya. Masih belum datang dia..saat kulihat dia tidak ada sedang dagangannya lengkap diatas meja “Masih Asharan mass… tunggu aja…. (seorang perempuan duduk dipojok seberang Ibu2 sekitar usia 45th menggendong anaknya yang masih kecil menunggu uluran tangan mengharap “sedekah” dari orang yang lalu lalang. di hibur Bau yang kadang menyengat kurang sedap sampah basah. mungkin dikira aku salah satu pelanggan dibedak ini.
OHya nama sohib ku itu LUTFI Z, temen mulai SMA dahulu dia terkenal ulet dengan berbagai “ide-ide usaha” salah satunya bedak kue di pasar besar. dengan tanpa modal barang dagangannya karena hanya titipan dari suppliernya.
Aku pun mendekati ibu2 paruh baya itu dengan anaknya.. apa sudah lama buu dia pergi? (tapi dengan bahasa jawa )
oohh sudah dari tadi mas, baru ke masjid….
aku sedikit kaget… begit nyaman kah jualan di lantai dasar pasar besar ini? sampai-sampai ditinggal saja tidak kawatir hilang dicuri orang.. serta sedemikian mudahnya kah dia mempercayakan kepada seorang pengemis dipojok tokonya
——————————————-
Kadang rasa curiga kita jauh lebih besar, sehingga merasa was-was dan gelisah… pikiran-pikiran kita mengembara dengan kalimat “andaikan … andaikan… “. tanpa memberi kesempatan kepada hati kita untuk menghirup udara “berserah diri”
Begitu banyak toko sejenis dia pun tidak khawatir.. karena menurutnya… “Pekerjaan bisa di contoh… namun rejeki tidak.. itu adalah “wenang” Allah.
hebat.. pemikiran yang menjadikan dia sederhana dalam menjalani hidup…
BAGAIMANA DENGAN KITA?
( trimakasi lutfi atas pelajaran mu hari itu)
About




Leave a Comment