Dibayar karo duit cap godong

EKONOMI & BISNIS, Pribadi, SOSIAL BUDAYA, Umum, Usaha kita September 20th, 2007

jenmani jaipongSudah bukan rahasia lagi, kalau usaha yang perputaran uangnya sangat cepat menjadi daya tarik “magnet” tersendiri bagi para pelaku bisnis. apapun barangnya tidak menjadikan masalah yang penting jadi “uang”. Ingat beberapa hari yang lalu kita dihebohkan dengan kehadiran ikan Arwana. Beberapa waktu kemudian berganti dengan ikan Louhan.. konon harganya bisa ratusan juta. Ini trend yang saat itu menjadikan daya tarik yang kuat bagi pelaku bisnis. Solo , kartasura, Karanganyar dan sekitarnya sebagai pusat perputaran nya.

Sedangkan di dunia tanaman hias ada yang lebih hebat lagi. Beberapa waktu yang lalu adanya tanaman “Adenium” atau gampangnya kamboja jepang, bentuk unik besar menjadikan harga selangit.

Beberapa saat kemudian hadir bunga “Gelombang Cinta” yang konon ada yang bilang karena daunnya yang bergelombang dan indah menjadikan nilai lebih dan mahal dipasaran hingga sempat hilang dipasaran. belum hilang ketangguhan tanaman ini dalam menyedot masyarakat menjadi pecinta, pemerhati dan pedagang dadakan muncul lagi tanaman lama dengan daya tarik lebih kuat dengan nama beken Jenmani (anthurium2 an) .

Bahkan konon ada yang berani menawar 1 milyard… Edan dan fantastis kata2 yang tepat untuk menggambarkan. Bahkan bibit kecambahnya saja sudah laku ratusan ribu

HookeryHarga “ra umum” menjadikan semua pada berebut rejeki disini, dari petani, guru, pegawai banyak yang mencoba ikut mengais rejeki di perdagangan komoditi “ra umum” ini. Banyak yang kaya mendadak tapi pasti juga banyak yang “gelo/ edan” mendadak juga. Seperti hukum pasar.. bila perputarannya sangat tinggi tentu menjanjikan keuntungan tinggi pula dengan resiko yang besar pula. bila semakin kuat dorongan pasar akan meningkatkan modus kejahatan dalam bisnis ini, pemalsuan, penipuan , perampokan , pencurian dll.

Seperti kata pepatah orang dahulu tidak salah sepertinya “opo kate dibayar karo duit cap godong opo” kenyataanya sekarang ada. bahkan anak-anak kecil dahulu yang mainan daun sebagai alat tukar “duit-duitan” menjadi kenyataan.. hakekatnya ya duit jual godong.

Apapun kenyataannya , jangan mudah “Wah” tapi yakin pasti ada masanya.. jadi kita tidak ikut dalam ketidak tahuan. Ayooo siaa mau ikut dagang jenmani?

penulis

 

 

 

 

Berfikir tentang mati

Islam, Lentera hati, Pengunjung, Pribadi, Umum September 14th, 2007

Berapa lama Kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di
atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya
memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi,
sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke
kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1915 : 20- 01-1965 ”

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah
ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut
memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk
Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.” Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Yani berlagak
sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam
kubur 42 tahun … ”

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di
samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini:
19-02-1882 : 30-01-1910″

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya
menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa
ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam
bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita
akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya
kan yah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun
dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun
nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa
menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas
….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau
kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur
…. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata…

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak
menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke
depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan
disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin
ia sudah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik
turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu
hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk
Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan…
Dan apa yang akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Republik Kucing

Artis, Lentera hati, Pengunjung, Pribadi, Umum, info September 5th, 2007

 

Pengarang

Berikut kiriman dari : ILuth

http://profiles.friendster.com/sitiluthfiyah

Republik Kucing

Posted by: “ARIF” <…> Mon Sep 3, 2007 5:56 am (PST)

>
>Gentur mengadu nasib ke Jakarta. PRT asal Banten itu sudah 20 tahun kerja
>untuk orangtua saya menunggui rumah di Jakarta Selatan bersama istri dan dua
>anaknya.
>
>Sepekan lalu asmanya kambuh dan dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh
>istrinya. Ia butuh pertolongan pertama, tetapi dokter menyuruh sang istri
>membayar dulu uang Rp 6 juta.
>
>Istrinya tak punya uang sebanyak itu. Ia panik melihat tubuh Gentur telah
>membiru.
>
>Setelah ditolak, ia angkut Gentur ke RS Fatmawati. Namun, Gentur meninggal
>dunia dalam perjalanan di taksi.
>
>Mohon maaf kepada keluarganya, takdir takkan pernah bisa dihindari. Apalagi,
>seperti kata pepatah, “Ibu tiri kalah kejam dibandingkan Ibu Kota”.
>
>Pada zaman edan ini tak ada rumah sakit yang mau rugi dan yang berkuasa
>adalah rupiah. Namun, agar lebih fair rumah sakit sebaiknya pasang
>pengumuman di pintu UGD: “Uang Panjar Enam Juta Rupiah”.
>
>Bukan cerita baru nyawa manusia tak ada harganya di Jakarta ini. Ingat
>tukang beling Supriono yang keliling membawa jenazah putrinya yang berusia
>tiga tahun, Nur Hairunisa, di gerobak sampahnya sendiri?
>
>Ia tak mampu bayar ambulans dan diinterogasi polisi karena dicurigai
>membunuh putri kesayangannya. Sebuah rumah sakit emoh memakamkan jenazah Nur
>karena mengaku tak punya biaya.
>
>Banyak anak coba bunuh diri karena malu tak mampu bayar uang sekolah. Tak
>sedikit anak miskin jadi “cepék man” di tikungan atau pengemis di
>lampu-lampu merah.
>
>Di Jakarta yang berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa ini ada lebih dari
>8.000anak kurang gizi. Total terdapat 1,5 juta anak kurang gizi di
>negara ini.
>
>Di Ibu Kota ada 93.000 kepala keluarga yang miskin. Jika setiap keluarga
>rata-rata terdiri dari empat orang, minimal ada 400 ribuan rakyat miskin.
>
>Gentur, Supriono, Nur, dan anak yang bunuh diri, kurang gizi, atau miskin
>hanya paham slogan “merdeka atau mati”. Mereka memilih mati karena “merdeka”
>tanpa menanggung derita.
>
>Kita, warga, familiar dengan slogan “merdeka atau bayar”. Kalau lupa bayar
>iuran, tak ada yang jaga keamanan, tak ada lampu jalan, dan tak ada yang
>mengangkut sampah rumah.
>
>Dalam acara di stasiun radio Delta, Senin (13/8), ada pendengar bertanya,
>”Apakah kita sudah merdeka?” Saya bingung menjawabnya karena Indonesia sudah
>62 tahun merdeka.
>
>Rupanya masih banyak yang yakin Indonesia masih “dijajah”. Siapa yang
>menjajah kita, mungkin tak sukar menjawabnya.
>
>Kita masih “dijajah” tetangga. Buktinya tiap tahun 100.000 pasien yang kapok
>dengan rumah sakit di sini memilih berobat ke Singapura atau Malaysia.
>
>Kita “dijajah” Malaysia yang usianya 12 tahun lebih muda. Paling tidak
>mereka bangga dengan slogan “Truly Asia” yang “direbut” dari Indonesia.
>
>Kita “dijajah” Singapura yang menampung konglomerat pembawa kabur uang
>negara. Kita sewakan tanah agar Singapura mau mengembalikan mereka.
>
>Kita “dijajah” Vietnam dan Filipina. Perolehan medali mereka di Asian Games
>lebih banyak daripada Indonesia.
>
>Kita “dijajah” Australia. Buktinya mereka dapat rezeki besar dari Celah
>Timor dan pasukannya petantang-peté nténg di Timor Timur, bekas provinsi
>kita.
>
>Kita dua kali “dijajah” Uni Eropa. Kita dipaksa menandatangani perjanjian
>perdamaian dengan GAM, lalu pesawat kita dilarang terbang ke Eropa.
>
>Kita “dijajah” Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa. Turis mereka
>diimbau jangan naik pesawat di sini karena keamanannya tak layak dipercaya.
>
>Kita “dijajah” negara-negara Timur Tengah. Baru-baru ini dua TKI di Arab
>Saudi tewas setelah disiksa majikan mereka.
>
>Dan kita ternyata masih “dijajah” Belanda. Masa gini haré mereka belum
>mengakui tanggal kemerdekaan kita?
>
>Namun, penjajah sebenarnya adalah mereka yang berkuasa. Mereka membanggakan
>”kebebasan berbicara”, tetapi enggak nyandak “kebebasan berpikir” bisa
>menemukan resep memperbaiki bangsa.
>
>Mereka berteriak “bersama kita bisa” walau tahu kemerdekaan akan sia-sia
>tanpa kesejahteraan ekonomi setiap warga negara.
>
>Kemerdekaan ibarat mandi karena kita mesti mengisinya tiap hari. Penguasa
>mandi empat kali sehari supaya kulitnya tetap wangi.
>
>Penguasa membius rakyat menggantungkan cita-cita kemerdekaan kayak burung
>terbang tinggi. Mereka doyan “terbang” studi banding atau berkunjung ke luar
>negeri.
>
>Patriotisme rakyat tak membabi buta, malah jadi pengikat cita-cita yang
>melahirkan bangsa ini. Penguasa nyerocos tentang bahaya musuh, ancaman
>separatisme, “insiden cakalélé”, GAM, atau bendera Bintang Kejora.
>
>Setiap 17 Agustus kita mengenang setiap pengorbanan yang diberikan bagi
>kemerdekaan. Mari kita camkan lagi masa depan Indonesia tak ditentukan
>penguasa, tetapi oleh kita, rakyat yang mencintainya.
>
>Para penguasa bilang, “Ah, kamu salah!” “Saya sudah berkorban. Saya
>begadang, padahal ngantuk. Saya bukan cuma dicintai rakyat, tetapi juga oleh
>diri sendiri,” jawab para penguasa.
>
>Anda, saya, dan rakyat merayakan proklamasi tiap 17 Agustus tanpa parade
>senjata, dentuman meriam, atau tumpeng raksasa. Kita ikut lomba makan
>kerupuk, panjat pohon pinang, lari karung, atau main bola.
>
>Para penguasa mondar-mandir diiringi pasukan lengkap bersirene “ngeong,
>ngeong, ngeong….” Mereka kayak kucing angora yang takut keluar rumah, cuma
>lompat-lompat di meja, tempat tidur, atau sofa.
>
>Indonesia bangsa besar, yang kerdil para penguasa republiknya. Merdeka!

CARI DUIT dari IDE kita..

IPTEK dan Komputer, Pengunjung, Pribadi, Umum, Usaha kita September 4th, 2007

Apabila anda memiliki domain yang sudah publish, ada cara untuk mendatangkan tambahan rejeki dengan mendaftarkan Domain (website) anda ke Google Adsense,

Berikut ini turorial untuk mendaftarkan ke Google Adsense. Secara keseluruhan ada 4 bagian yg harus Anda isi untuk mendaftar di AdSense, yaitu Website Information, Contact Information, Product Selection, dan Policies. Isilah dengan benar seluruh field yg ada, terutama pada bagian Contact Information karena data yg ada di situ akan digunakan untuk mengirimkan pendapatan Anda dalam bentuk cek. Selain itu, data Contact Information juga tidak mudah untuk dimodifikasi di kemudian hari (harus melakukan kontak langsung dengan pihak Google terlebih dahulu), jadi sekali lagi, pastikan semua terisi dengan benar. Contoh pengisian formulir pendaftaran: klik http://www.adsense.com atau klik gambar

Adsense



Jangan lupa untuk mencentang semua checkbox yg ada di bagian Policies untuk menandakan Anda setuju dengan peraturan dan ketentuan yg diberikan oleh Google AdSense.

Tekan tombol Submit Information untuk mengirimkan formulir tersebut ke Google. Selanjutnya, Anda akan mendapatkan email konfirmasi dari Google yg berisikan link konfirmasi. Aktifkan link tersebut. Sekarang Anda tinggal menunggu apakah aplikasi pendaftaran Anda diterima atau tidak. Biasanya dalam waktu 2 x 24 jam (hari kerja) Anda sudah akan mendapatkan balasan dari Google mengenai status pendaftaran Anda.

Jika diterima, selanjutnya Anda bisa membaca mengenai peraturan penggunaan Google AdSense atau tehnik dasar penggunaan Google AdSense.

NEWS NEWS NEWS….

Islam, Lentera hati, Pribadi, Umum August 29th, 2007

Dapet kiriman email dari temenku, semoga bermanfaat.. ..

Semalem, nonton news dot com di Metrotv, mr guest nya sungguh membuat haru. Mr Guest yang bernama Pak Waras (lebih tepatnya kayaknya disebut Mbah), dengan penampilan yg lugu dan super polos didampingi istri dan seorang anaknya.

Kenapa dia menjadi special guest star di acara tsb ?
Karena dia ‘makhluk langka’ di jaman sekarang ini.
Kalimat diatas bukan berkonotasi merendahkan tapi justru untuk menyanjung.
Pokoknya two thumbs up deh.

Cerita berawal dari pembagian ganti rugi dari PT Lapindo untuk korban lumpurnya.
Ganti rugi untuk keluarganya ditetapkan Rp 285 juta. Pembayaran pertama kan baru 20%. Uang yang semestinya diterima hanya Rp 56 juta. Namun apa yang terjadi? Rekeningnya membengkak 429 juta , dia bingung. Uang dari mana ??? Nah, dia lalu melaporkan kepada pendampingnya, lalu sama pendampingnya diantarkan ke kantor Lapindo.

Dalam acara news dot com itu ditanya, alasan apa yang mendasari Bapak Waras mengembalikan uang ratusan juta itu?
Jawabnya dengan lugu dan dalam bahasa Jawa (karena dia tidak bisa bahasa Indonesia, si penanya juga pake dalam bahasa Jawa) :
“Kulo wedi dosa pak, niku sanes hak kulo.”

Ogh..begitu mulianya jawabannya, mestinya ini direkam dah diedarkan kepada para koruptor di negara kita ya.
Pak Waras yang notabene bukan orang sekolahan, bukan pejabat yang mengemban amanah rakyat, tapi dia lebih punya hati nurani daripada para pejabat di negara kita, yang hobi menggembungkan rekening pribadinya dari uang yang bukan haknya.

Sebagai tanda terima kasih pihak Lapindo memberi reward menginap di hotel berbintang, tapi lagi-lagi ditolak oleh Pak Waras.
Dengan alasan apa coba ?
Dengan lugunya dia menjawab : “Kulo wedi kadhemen. Mangke yen ten mriko kulo ndak kemutan wedhus2 kulo”

Ogh..nooo… .

Pak Waras, lemah teles, gusti Allah sing bales. nggih
Mungkin didunia ini imbalan untuk Pak Waras gak seberapa.
“Hanya” rumah gratis 40/90 dari PT Lapindo atas kejujurannya itu.
Tapi rumah akhirat jauh lebih besar dan mewah.
Amin.

Ajarkan Anak Selesaikan Masalah

Lentera hati, Pribadi, Umum August 14th, 2007

semangat.jpgsemangat.jpgsemangat.jpg

“Jangan gunakan kunci pintu keberhasilan lama untuk
membuka sebuah pintu kesempatan yang ada di depan”

Kita harus menyadari bagaimanapun baiknya kita
sebagai orang tua, maka problem atau masalah pasti
akan dialami oleh anak-anak kita. Karena masalah
adalah bagian dari hidup yang tidak dapat
dipisahkan. Ada yang menganggap masalah itu sebagai
hambatan dan yang lainnya menganggap itu sebagai
sebuah tantangan. Tetapi cukup sulit bagi kebanyakan
orang tua untuk melihat anak-anaknya mengalami
masalah. Semua orang tua akan berusaha membuat
anak-anak mereka terbebas dari masalah atau problem
walaupun sebenarnya itu mustahil.

Apalagi dengan latar belakang orang tua yang pernah
hidup susah dan penuh masalah pada waktu kecilnya,
maka ketika anaknya bertumbuh dewasa sebisa mungkin
mereka akan berusaha keras untuk menyelamatkan
anak-anaknya atau minimal menghindarkan mereka dari
masalah-masalah atau pengalaman buruk serupa yang
pernah mereka alami. Banyak orang tua juga sering
menggunakan ‘kunci pintu keberhasilan mereka untuk
membuka pintu-pintu kesempatan bagi anak mereka’.
Mereka berpikir bahwa pengalaman dan pengetahuan
mereka akan mampu menyelamatkan anak-anaknya dari
masalah.

Secara alamiah memang setiap orang tua ingin
melindungi anak-anaknya dari membuat kesalahan namun
pada akhirnya kebanyakan orang tua terjebak menjadi
‘Problem Solver’ bagi anak mereka, padahal mereka
sebenarnya harus mengajarkan teknik ‘problem
solving’ kepada anak mereka.

Akibat Orang Tua Yang Berperan Sebagai ‘Problem
Solver’
Resiko atau akibat yang dapat terjadi bila orang tua
terlalu sering memecahkan masalah anak daripada
menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Anak Menjadi Pasif
Anak akan merasa terbiasa dilayani, merasa nyaman
dengan pelayanan yang kadang-kadang ‘overprovided’ .
Sehingga tidak ada lagi dorongan untuk berusaha
sendiri dan ’survive’ karena semuanya terlayani.
Contohnya, kita sering melihat di pusat-pusat
perbelanjaan sebuah keluarga berjalan berbaris,
setiap anak didampingi oleh satu orang baby-sitter
atau perawatnya. Semua kebutuhan sekecil apapun sang
baby-sitter akan segera siap melayaninya, sedangkan
kedua orang tuanya sibuk dengan aktifitasnya
sendiri-sendiri.

Anak Menjadi Penikmat
Selain mengalami ‘overprovided’ , anak-anak kita juga
sering diperlakukan secara ‘overprotective’ . Dijaga
sedemikian rupa oleh orang tuanya, sehingga ia hanya
menerima yang terbaik, sangat berkecukupan dan jauh
dari masalah.
Anak penikmat akan selalu menuntut lingkungannya
untuk melayaninya, menjaganya dan melindunginya.
Tidak akan ada ’survival mode’ di dalam jiwa anak
tersebut. Hidupnya terasa ’serba aman’ karena merasa
selalu ada orang lain yang siap melindunginya dan
mau berkorban untuknya.
Pernahkah kita melihat seorang anak setiap pagi
asyik menonton film kartun kesukaan di depan TV
layar lebar, sedangkan pada saat yang sama orang
tuanya terbungkuk-bungkuk berusaha memasangkan
sepatunya untuk bisa segera berangkat ke sekolah
supaya tidak terlambat.

Anak Menjadi Egois
Ia akan selalu merasa benar dan ingin menang
sendiri. Semua hal diperhitungkan demi
kepentingannya sendiri. Kita tidak dapat
membayangkan seberapa sulitnya ia ketika besar nanti
dalam bersosialisasi dan bergaul dengan
lingkungannya.

Tiga Langkah Dalam Melatih ‘Problem Solving’ Pada
Anak
Untuk memulai langkah-langkah di bawah ini kita
harus mengawalinya dengan menghentikan peran orang
tua yang ’segera selesaikan masalah anakmu’. Biarkan
anak-anak mulai memikirkan cara-cara yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalahnya. Maka langkah
selanjutnya mulai dapat dilakukan sebagai berikut:

1.Diskusi
Pemecahan masalah dimulai dengan komunikasi terbuka
antara orang tua dan anak. Nyatakan masalah yang
dihadapi dengan jelas dan tenang. Bila kita sedang
emosi, sebaiknya kita tenangkan diri kita sejenak
sebelum membahas masalah tersebut dengan anak. Ingat
jangan gunakan kata-kata tuduhan atau mempersalahkan
anak ketika kita berdiskusi, sampaikan hanya apa
yang menjadi masalah. Contoh:
“Ánakku, saya perhatikan kamu masih meletakkan
handuk di tempat tidurmu tadi pagi”
“Waktu kamu memutar televisi dengan suara keras di
atas jam 10 tadi malam, saya dan ibumu tidak bisa
tidur.”
Mintalah usulan atau daftar pemecahan masalah dari
sang anak terlebih dahulu sebelum kita menambahinya.
Jangan beri penilaian atas usulan sang anak - catat
saja. Kalau dia mulai kesulitan memberi usulan,
mungkin kita dapat memancingnya dengan perkataan:
“Bagaimana kalau kamu coba yang…” sering kali
langkah ini terbukti berhasil.

2.Konsekuensi Logis
Setelah mendaftarkan semua alternatif pemecahan lalu
diskusikan satu persatu. Setelah menentukan
pemecahan yang paling menjanjikan, buat kesepakatan
bisa secara verbal atau tertulis. Gunakan
konsekuensi logis sebagai sanksi bila terjadi
ketidakpatuhan atas kesepakatan. Disiplin tidak
selalu berbentuk hukuman fisik tetapi dapat juga
berupa melarang perbuatan yang disukai anak
(bersepeda sore hari, membaca komik, menonton
televisi ataupun bermain game komputer). Sebaiknya
konsekuensi logis berhubungan dengan permasalahan
yang dihadapi.

3.Evaluasi
Setelah selang beberapa waktu, sebaiknya kita
mengevaluasi kesepakatan yang telah dilakukan apakah
konsisten dilakukan? Evaluasi seberapa jauh
keberhasilan pemecahan masalah tersebut.
Mulailah mendidik anak untuk memecahkan masalahnya
sendiri dan mulailah hal itu sekarang!

“The trouble with most of us is that we stop trying
in trying times” (Dennis Waitley)

Ada sebuah cerita….

Lentera hati, Pribadi, Umum August 13th, 2007

wawancara.jpgAda sebuah perusahaan besar di Indonesia (anda tahu Astra Internasional bukan?) yang sewaktu dulu pernah mencari karyawan.
Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab, yaitu:

Anda sedang mengendarai motor ditengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir.
Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian Bis satu-satunya didaerah itu. Di perhentian
Bis itu Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan Bis :
- Seorang nenek tua yang sekarat,
- Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya,
- Seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda temukan.

Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk dibonceng Anda, siapakah yang akan Anda ajak ?
Dan jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu.
Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan:

Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat. Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalo dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati ajalnya.
Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan hidup kedepannya masih panjang.
Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepadanya.

Tapi kalo dipikir, kalo sekedar membalas budi bisa lain waktu khan.
Namun, kita tidak akan pernah tau kapan kita mendapatkan kesempatan itu lagi.
Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan impian Anda akan kandas selamanya.

Jadi yang mana yang Anda pilih ?
Jawab dulu sesuai naluri, nalar & kata hati anda dulu… Baru buka contekannya dibawah ini.

Kayaknya banyak dari antara anda yg akan salah menjawab nih…hehehe
———— ——— ——— ——— ——— ——— -

Untuk direnungkan saja (ga usah serius-serius amat)
Dari sekitar 2000-an orang pelamar hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan itu. Orang tersebut
tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat:

“Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua yang sedang sekarat tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang
idaman hati saya untuk menunggu Bis kembali menolong kami.”

Maka sang HRD yg mulai kecewa dgn hasil seleksinya (sebab byk yg gagal dan penjelasannya tidak memuaskan, egois, tidak perduli sesama dsb.) akhirnya lega sekali.

Tugasnya selesai…sudah ditemukannya sang calon karyawan tersebut. Dan diterimanyalah calon karyawan tersebut dan langsung mendapat “kualifikasi smart & brilliant employee, prospectfull career”. Anda tau nasib sang
karyawan tadi?….Dulu dia pernah menjadi seorang Menperindag Indonesia .
Ya dia adalah … “Rini …… Suwandi”…!

Moral cerita:
Terkadang… dengan rela untuk melepaskan sesuatu yang kita miliki,mengakui segala keterbatasan yang kita
miliki dan melepaskan semua keinginan kita untuk sesuatu yang lebih mulia,
kita akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar……dan lebih hmm

(dari millist tetangga)

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Lentera hati, Pribadi August 2nd, 2007

Oleh A. Muttaqin

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini.
Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah
hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta
ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram
sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam
negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari
pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan.Karena
penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak
seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh
dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan
sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari
beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi
dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu
sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami
masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama
bernasib “guru” yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan
sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat
berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai
seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki
tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering
pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi
berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa
mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah
yang diterimanya.

“Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi
non matematis dan di luar angka-angka logis.” “Maksud Mas Ajy gimana, aku
nggak ngerti?” “Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi
orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun
sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu
dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”

“Kenyataannya memang begitu kan Mas?”, kata saya mengiayakan. “Mana mungkin
dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa
berbagi.” Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya. “Ya, karena kita masih
menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke,
sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso
enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis,
berapa sisa uang kita?” “Tidak ada. Habis.” jawab saya spontan.

“Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan
seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada
jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin
masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

“Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah
diberikan pada pengemis “, saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

“Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah
tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang
seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’
keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita.
Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat
malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi
penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi.
Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya.
Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup
di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah
menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan
orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya
sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi
dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola
hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin
menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi
kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya,
dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya.
Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah
akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan
dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi
sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan
gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan
lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan
syukur”. Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan.
Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan
saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada.
Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme
kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah
lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui
pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain
yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

***

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu saya
acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya.
Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy.
Allah mengingatkan saya kembali:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya)
lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Nikmatilah Kopinya, Bukan Cangkirnya

Lentera hati, Pribadi, Umum July 6th, 2007

Sekelompok alumni satu universitas yang telah mapan
dalam karir
masing-masing berkumpul dan mendatangi professor
kampus mereka yang
telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada
komplain tentang
stess di pekerjaan dan kehidupan mereka.
Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur
dan kembali dengan
poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis -
dari porselin,
plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa
diantara gelas mahal dan
beberapa lainnya sangat indah - dan mengatakan pada
para mantan
mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.
Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di
tangan, professor
itu mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua
cangkir yang indah dan
mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas
biasa dan yang murah
saja.Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini
hanya yang terbaik
bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi
sumber masalah dan
stress yang kalian alami.”

“Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi
kualitas kopi.
Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam
beberapa kasus
bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang
kalian inginkan
sebenarnyaadalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun
kalian secara sadar
mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai
memperhatikan cangkir orang
lain.”

“Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi,
sedangkan
pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah
cangkirnya. Cangkir
bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan.
Jenis cangkir yang
kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti
kualitas kehidupan
yang kita hidupi.Seringkali, karena berkonsentrasi
hanya pada cangkir,
kita gagal untuk
menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi
nikmatilah
kopinya, jangan cangkirnya.
Sadarilah jika menjalani & mengerti arti kehidupan
anda itu jauh lebih
penting dibanding memenuhi keinginan anda. Karena
ambisi,hasrat &
keinginan hanya akan membatasi diri anda dan
mengendalikan hidup anda,
Anda
hanya akan menjadi orang yang mudah diserang dan
rapuh akibat
perubahan keadaan.
Ambisi,hasrat & keinginan selalu datang dan pergi,
namun itu seharusnya
tidak merubah diri anda sebagai manusia. Pastikan anda
membuat tabungan
kesuksesan dalam kehidupan selain dari ambisi anda.

Pesan Sang Ayah

Lentera hati, Pribadi July 4th, 2007

semangat.jpg

Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika
ayahnya meninggal sebelumnya
berpesan dua hal: pertama jangan menagih hutang
kepada orang yang
berhutang kepadamu, dan kedua, jika mereka pergi
dari rumah ke toko jangan
sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa
beberapa tahun setelah
ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya
sedang yang bungsu
menjadi semakin miskin.

Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada
mereka.
Jawab anak yang bungsu : Inilah karena saya
mengikuti pesan ayah. Ayah
berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang
kepada orang yang berhutang
kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena
orang yang berhutang
kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh
menagih. Juga ayah
berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari
rumah ke toko dan
sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari.
Akibatnya saya harus naik
becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja
cukup, tetapi karena
pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku
bertambah banyak.

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun
bertanya hal yang
sama.
Jawab anak sulung : Ini semua adalah karena saya
mentaati pesan ayah.
Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih
kepada orang yang berhutang
kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga
dengan demikian modal
tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika
saya berangkat ke toko
atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar
matahari, maka saya
berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang
sesudah matahari
terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain
buka, dan tutup jauh
sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena
kebiasaan itu, orang menjadi
tahu dan tokoku menjadi laris ,karena mempunyai jam
kerja lebih lama.

Bagaimana dengan anda?

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di
tanggapi dengan
presepsi yang berbeda jika kita melihat dengan
positif attitude maka
segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan
membuat kita sukses
tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya
kesulitan karena rutinitas
kita ..pilihan ada di tangan anda.

“Berusaha melakukan hal biasa yang dikerjakan dengan
cara yang luar
biasa.”