Kasih sayang…

Islam, Lentera hati July 12th, 2008

Ada berbagai penjelasan tenatang kasih sayang, ada yang bilang cinta (atau diatas nya) . kasih sayang menurutku lebih merupakan bentuk aprisasi kita berbagi terhadap sesama yang lebih mengedepankan naluri dan qusnudzon bukannya nafsu ataupun pemaksaan. kerelaan hati untuk berbagi , memberi dan menerima tanpa ada curiga.

ketika kasih sayang ini hilang sebenarnya lebih karena kebendaan, materi , uang atau apapun.. seorang dokter rela dengan tanganya memberikan sebotol susu kepada bayi yang baru lahir.. jari-jari mungil begitu halus dan bersuara lantang ” oek-oek-oek”.. lebih mendepankan kasihsayang nya. Kasih sayang dia sebagai bentuh luapan kasih sayang Dzat sang Kholiq kepada makhluknya.

apakah kita bisa berbagi dengan ikhlas? itulah pertanyaannya

apakah mungkin? Pasti bisa

kasih sayang mu 

Tags:

Bocah ber Gitar

Lentera hati, Umum March 31st, 2008

Suasana makin gelap, hujan gerimis kecil di traffilight di depan masjid Sabilillah Blimbing. seorang bocah 5-6 tahunan memainkan gitar kecilnya… dengan suara yang khas, cempreng dan sesekali terhenti karena menggigil kedinginan.. setiap lampu menyala merah.. dia langsung menghampiri setiap kendaraan yang berhenti sesaat. tanpa tahu pasti akan mendapat recehan yang dia harapkan atau tidak. terus-terus dan terus…

Ketika asyik bernyanyi, gitar kecilnya tersenggol sepeda motor dan jatuh…disaat lampu hijau…tbelum sempat memmungut gitarnya akhirnya terdengar suara.. “Krakkkk…” gitar kesayangannya terlindas mobil. diapun terlihat tertegun memandanginya. tanpa menghiraukan kondisi dia yang tengah berada ditengah arus kendaraan. dipungutnya gitar itu dan di bawa ke trotoar..

Sedih jelas tergurat didahinya.. betapa barang yang sangat berharga baginya hancur dalam sekejap..sesekali dia sesenggukan meratapi gitarnya. Diusapnya air mati dengan balik tangannya.. bocah kecil meratapi gitarnya menggigil kedinginan tanpa tahu harus berbuat apa.

Bayangkan bila semua terjadi menimpa kita.. tahu-tahu kita dipecat dari kerja.. kehilangan pekerjaan atau apa yang sangat kita sayangi. Bingung, Sedih dan tak tahu harus berbuat apa…? Gitar itu sudah menjadi bagian hidupnya.. sebagai alat mencari membantu ibunya dalam mencari sesuap nasi.. Kita tidak ada yang tahu dengan apa yang terjadi besok. Membantu sesama jelas penting… “Sayangilah yang dimuka bumi maka yang di langit akan menyayangi” … InsyaAllah

Selamat jalan “guruku”

Lentera hati, Pribadi, Umum February 1st, 2008

keponakan_thumbnail.jpg

Ya Allah

Kemarin rabu 30 Januari 2008, jam 11.27 an HP ku bunyi… ” Mas sudah denger khabar.. Dik Arif meninggal dunia dan akan dimakamkan di Malang…”

kata2. yang sedikit mengagetkan , karena baru minggu ketemu bapak ibu di Surabaya

Arif.. putera mbak yang masih berumur 1,5 tahunan..tidak sakit..tahu2 ada khabar meninggal..

dia sekaligus guru ku ..yang mengajari aku arti hidup

“Ya Allah yang Maha berkehendak.. engakau yang mengetahui apa yang kemarin terjadi sekarang dan yang akan terjadi…tiada rahasiapun dihadapan MU

Lucu, insyaAllah tidak ada dosa serta menyenangkan semua orang..

dia pergi selamanya dengan senyum dan keikhlasan

mampu menggugah/ menggerakkan hati para pelayat untuk menangis. dan bedoa.

Bisaka kita “sekeluarga” bisa berkumpul bersama “di Sorga MU ya Robbi

berikan kekuatan kami yang ditinggal..

Selamat jalan “guruku” .. sekarang kau hangat di pelukan “Rahmadnya”

Innalillahi wainna ilaihi rojiun

Berita terkait

Lucu-lucu….

 

Tayangan yang Perlu untuk negeri ini

Lentera hati, Umum January 12th, 2008

Dari sekian tayangan TV yang paling aku nanti-nati adalah tayangan KickAndy

Kenapa?

Banyak tayangan yang “mengasah pikiran “tapi belum banyak tayangan yang “mengasah hati”

inilah salah satunya yang mengasah hati. yang menjadikan hati kita menjadi “kaya” tidak gersang dan kering

 

Andy’s Diary -metro tv

Tahun baru, semangat baru. Itu harapan kami dari tim Kick Andy. Karena itu pula Andy’s Diary kali ini kembali mencuplik beberapa episode yang membangkitkan semangat kita.

Simak saja kisah tentang Patricia, seorang wanita yang terlahir tanpa tangan dan kaki yang sempurna. Dengan keterbatasan itu Patricia tetap tegar menghadapi hidup. Dengan kakinya dia melukis. “Saya tidak ingin orang membeli lukisan saya karena kasihan. Saya ingin orang menghargai lukisan saya karena memang mereka suka,” ujarnya.

Cacat fisik tidak juga membuat Patricia merasa minder dan menarik diri dari pergaulan. Tuhan maha besar. Seorang pemuda tampan berkebangsaan Australia, yang secara fisik normal, melamarnya. Mereka lalu bertunangan. Happy ending.

Masih ingat dua anggota TNI yang lumpuh akibat kecelakaan saat bertugas? Kopda Agus Sugiharto lumpuh karena terjun payung sementara Serda Hadi Suyatno harus duduk di kursi roda akibat amunisi yang harus dimusnahkannya meledak.

Namun mereka berdua pantang mengeluh. Dengan semangat yang luar biasa, keduanya berlatih tennis lapangan dan meraih sejumlah prestasi tingkat internasional.

Banyak orang mengeluh dan merasa hidup ini tidak adil. Mereka merasa menjadi orang paling menderita di dunia. Tuhan pun mereka hujat atas nasib yang menimpa mereka. Tapi apakah setelah melihat episode-episode yang ditayangkan di Andy’s Diary mereka masih merasa sebagai manusia paling menderita?

Silakan simak cerita tentang sekelompok penari tunarungu dan tunagrahita. Tidak tampak sedikit pun duka di wajah mereka. Dengan gembira mereka menari dan berhasil menyabet berbagai penghargaan di kompetisi dunia.

Begitu juga dua perempuan yang walau buta tetap gembira menyanyi dengan suara yang luar biasa. “Kalau diperhatikan sepintas, kita tidak menyangka mereka bukan orang-orang yang normal secara fisik,” tutur Lies Kusbiono, Ketua Yayasan GR Siswa, tempat para penari dan penyanyi tersebut bernaung.

Jika fisik Anda normal dan kerap merasa paling menderita, sebaiknya Anda menyaksikan juga bagaimana Lestary Lenes, yang tingginya cuma 75 cm, menjalani hidup dengan riang gembira. Dalam menjalani aktivitas hidupnya sebagai penyiar radio dan guru bahasa Ingris untuk anak-anak, Lestary terpaksa harus dibopong kakaknya. Sang kakak, seorang guru wanita, mengaku tidak keberatan melakukan “pekerjaan” itu di kala tidak mengajar. “Saya tidak malu punya adik seperti ini,” ujarnya.

Andy’s Diary juga mencuplik episode “Veteran VS Naga Bonar” yang membangkitkan semangat patriotisme kita. Pasalnya di situ diceritakan kisah seorang veteran yang dulu berjuang bagi kemerdekaan tetapi kini harus berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.

Dedy Mizwar, pemeran “Naga Bonar”, juga hadir dan mengungkapkan penghayatannya sebagai seorang veteran dalam film “Naga Bonar Jadi 2”. Pada episode ini Anda akan menyaksikan bagaimana para veteran yang hadir di studio secara serempak menyanyikan lagu “Padamu Negeri”.

Banyak juga orang yang merasa putus asa dan frustasi hanya karena lahir dari keluarga tidak mampu. Tapi, Kangen Band menggugah kesadaran kita bahwa keterbatsan ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk menggapai sukses. Melalui kerja keras, kelompok musik asal lampung yang semua anggotanya lahir dari keluarga miskin ini, bisa meraih sukses. Merka membuktikan semua orang memiliki peluang untuk mengubah nasibnya. Tidak perduli dia anak tukang becak atau tukang cendol.

Jika Anda menonton episode “Setetes Embun di Padang Gersang”, tentu Anda ingat pada figur Pak Mahmud sang kepala sekolah yang jadi pemulung. Ketika kisah kehidupannya diangkat dalam film dokumenter “Kepala Sekolahku Pemulung”, terungkap bahwa istri pak Mahmud, Ibu Jumiati, mengidap tumor otak. Seharusnya tumor tersebut diangkat. Namun apa daya mereka tidak mampu menanggung biaya operasi dan perawatan yang relatif besar. Selama ini pilihan yang bisa mereka jangkau adalah pengobatan alternatif yang biayanya relatif murah.

Akibatnya, ketika muncul di Kick Andy, kondisi Ibu Jumiati sudah parah. Jika tidak segera dioperasi, Ibu Jumiati terancam buta. Kembali Tuhan memperlihatkan kuasanya. Dengan cara-Nya, Tuhan membuka jalan. Ibu Jumiati akhirnya bisa dioperasi. Setelah 12 jam dibedah oleh para dokter ahli syaraf, tumor yang sudah membesar di dalam kepalanya berhasil dikeluarkan.

(www.kickandy.com)

CERMIN Seorang Pemimpin

Islam, Lentera hati, Pribadi, Umum January 6th, 2008

Anda sudah
mengenal secara mendalam para bawahan? Siapa saja mereka dan, yang
lebih penting, bagaimana kesiapan mereka melaksanakan tugas
sehari-hari. Kalau Anda merasa kurang puas dengan kinerja mereka,
jangan cepat-cepat memvonis dengan kata-kata ‘bos tidak mungkin salah’.

Banyak faktor
yang menyebabkan seorang pemimpin atau atasan tidak dapat memimpin
sebuah tim dengan baik. Ada apa? Bisa jadi, Anda sebagai atasan kurang
mengenal karakter bawahan sehingga potensi dan kemampuan mereka dalam
mengerjakan tugas tidak tergali optimal.

Hal ini
merupakan masalah yang kerap dihadapi sebuah organisasi. Persoalannya,
selama ini pendekatan yang ada lebih banyak menyoroti dari sisi atasan
atau pemimpin. Profil seorang bos dibedah tuntas hingga akhirnya
diperoleh tipe-tipe seorang pemimpin. Ada yang bertipe karismatik, ada
yang membosankan, dan tidak sedikit pula yang bertipe ’semau gue’.

Padahal,
keberhasilan sebuah organisasi juga sangat bergantung pada hubungan
yang dinamis antara atasan dan bawahan. Bahkan, menurut Barbara
Kellerman, pakar masalah kepemimpinan di Universitas Harvard, AS,
kejelian atasan dalam membedakan karakter bawahannya merupakan salah
satu ‘ujian’ yang harus dilewati dengan mulus.

Dalam
tulisannya yang berjudul What every leader needs to know about
followers, Kellerman mengingatkan para manajer bahwa bawahan tidak bisa
dibagi atau dikelompokkan secara ekstrem hanya dalam ‘dua dunia’: hitam
dan putih. Harus ada pisau analisis yang lebih tajam untuk memetakan
para bawahan agar atasan memperoleh gambaran lengkap mengenai mitra
kerjanya tersebut.

Di era serba
digital saat ini, penulis buku Followership: How followers are creating
change and changing leaders itu seperti ingin mengajak atasan merenung
sejenak untuk mencermati dampak perubahan besar di bidang teknologi
terhadap kultur kerja bawahan. Lho, bukankah telepon cerdas, SMS dan
e-mail telah mengubah secara drastis cara dan ‘gaya’ kita bekerja.
Bahkan konsep kantor atau ngantor yang kita kenal selama ini bisa jadi
sudah tidak relevan lagi. Bukankah dengan dukungan teknologi, segala
rapat, pertemuan direksi hingga deal bisnis bisa dilakukan secara
virtual?

Memang betul.
Namun, kalau atasan tidak menguasai masalah dasar bawahannya, semua
fasilitas teknologi niscaya akan sia-sia belaka.

Berbeda dengan
pendekatan yang selama ini dikenal, Kellerman memetakan bawahan
berdasarkan ‘rentang keterlibatan’ mereka di organisasi. Dengan
metodologi ini pakar kepemimpinan tersebut ingin melihat bawahan yang
bertipe ‘nol besar’ (feeling and doing absolutely nothing) hingga
mereka yang dapat dikategorikan sebagai ‘bawahan andal’ (being
passionately committed and deeply involved).

“Saya sengaja
memilih level of engagement tersebut sebagai dasar analisis karena
bobot keterlibatan mereka sangat menentukan hubungan antara atasan dan
bawahan,” ujarnya.

Tidak terlalu
sulit mengamati aspek tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya,
siapa bawahan Anda yang selalu menjadi ‘bintang’ saat rapat
berlangsung? Ingat, bukan si cantik atau si ganteng yang mampu
‘menyihir’ seluruh peserta rapat, tapi mereka yang senantiasa berhasil
membuat rapat berjalan konstruktif berkat ide-ide segarnya, pertanyaan
berbobot yang diajukan atau menyampaikan argumen logis.

Rentang
keterlibatan versi Kellerman melahirkan lima tipe bawahan dengan
tingkah pola yang berbeda. Pertama, terasing (isolates). Kedua, acuh
tak acuh (bystander). Ketiga, terlibat atau berpartisipasi
(participants) . Keempat, aktivis, dan kelima, tipe ‘maju tak gentar’
(diehard).

Tipologi mana
yang paling dominan di organisasi Anda? Rasanya semua tipe tersebut
‘hidup’ di kebanyakan organisasi. Persoalannya, apa tindak lanjut dari
pengkategorian bawahan semacam itu. Dengan mengenal karakter bawahan
secara mendalam, atasan diharapkan bisa menerapkan gaya kepemimpinan
yang lebih pas, terutama terhadap mereka yang bersikap acuh tak acuh
atau terasing.

Tentu ada
sesuatu yang tidak beres bila karyawan yang semula andal dalam
menyelesaikan tugas, tiba-tiba berubah cuek dan menjadi trouble maker.
Jurus apa yang akan Anda pakai agar mereka bisa kembali ke rel semula?

Sumber : “Insight” Edisi Minggu Bisnis Indonesia 16 Desember 2007

Banjir… banjir…. banjirrrrr…. Kenapa?

Lentera hati, Umum December 27th, 2007

Masih jelas dalam ingatan aku beberapa minggu yang lalu kita mengeluh kenapa musim hujan tidak datang-datang. hampir mundur berapa bulan. Kita berharap akan turunnya hujan.

Hujan menjadi sesuatu yang mahal dan sangat diharap-harapkan.sampai-sampai kita mendengar upaya menarik awan dalam yang istilah kerennya “hujan buatan”. DIA marah gak yaa?

Berhasil atau tidak.. bukan menjadi topik kali ini. tapi justru upaya membat hujan buatan sebagai upaya kita untuk “mengatur alam”. Aneh tapi ya nyata..

Beberapa saat yang lalu aku juga pernah mendengar hipotesa bahwa Jumlah Air yang menguap = Jumlah air yang turun (hujan).

Ini didasarkan logika bila tidak seimbang tentunya bumi semakin keriput / gersang atau justru berlimpah ruah airnya

Ini berarti bawa kita hanya bisa “mengalihkan”/ “Menunda” bukan menolak hujan. sampai-sampai ada profesi “pawang hujan/ ahli tolak dan tarik hujan”. Hahahaha lucu manusia itu

tapi yang ingin perlu direnungkan disini bahwa semakin kuatnya “campur tangan” manusia terhadap wilayah Kekuasaan Allah (Sunatulloh) akan justru membuat ketidak seimbangan baru. yang akhirnya menjadikan bencana yang lain.. (bener apa tidak tergantung kita menyikapi)

Dulu kita berharap agar segera turun hujan.. tapi ketika Allah SWT memberikan “rahmad NYa” yang satu ini. Sehari semalam turun hujan tanpa henti… WOOOWWW dasyat..

Seperti bumi menolak air.. banjir dimana-mana.

Singkat cerita manusia adalah makhluk yang “Serba Repot”

“Renungan 26/12/2007 Saat kami ber 4 terjebak banjir di Saradan - Ngawi”

Cerita syukur

Islam, Lentera hati, Pribadi, Umum October 30th, 2007

Dari Teman, semoga bermanfaat: Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apa pun yang kudapatkan. Kata - kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita.Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia….. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. …. Tapi anehnya, ketika keinginan itu sudah didapatkan,kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tidak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi”KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang kaya adalah orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh -boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa berbagai keinginan inilah yang menjadi akar perasaan tidak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan kurang berkecukupan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat - sifat baik atasan, pasangan, maupun orang - orang disekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan , ” Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi. ” Ini perwujudan rasa syukur. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Ini sebenarnya suatu keinginan yang wajar. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tetapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur. Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding - bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemana pun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat , pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan - rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta - ganti pekerjaan, hanya agar tidak kalah dengan rekan - rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu,Lulu.. .” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yangdihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelahcintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut -mangggut, tetapibegitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak , ” Lulu, Lulu .., ” ” Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?” tanya pengunjung itu keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu…. “. Hidup kita akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai sorang ibu yangsedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap bahagia.Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ” Saya mempunyai dua anak laki - laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di seberanglautan ini. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapatberjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama sayadi surga……. .” Bersyukurlah. … Bersyukurlah bila kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan.. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan? Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu tentang sesuatu Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.. Bersyukurlah untuk masa - masa yang sulit.. Di masa itulah kamu tumbuh….. Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. .. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.. Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ….Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu … Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat … Itu memberi pelajaran yang berharga … Mungkin mudah untuk kita bersyukur ketika mengalami hal - hal baik …. Namun, hidup yang berkelimpahan justru datang pada mereka yang tetap dapat bersyukur pada masa masa yang sulit … Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif .. Karena itu, temukan cara bersyukur ketika menghadapi permasalahan, maka semua itu akan menjadi berkat bagimu .. “here’s No Fear in Love But Perfect Love Casts Out Fear” “Happy moments; praise God, Difficult moments; seek God Quiet moments; worship God, Painful moment; trust God Every moment; thanks God”

Berfikir tentang mati

Islam, Lentera hati, Pengunjung, Pribadi, Umum September 14th, 2007

Berapa lama Kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di
atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya
memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi,
sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke
kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1915 : 20- 01-1965 ”

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah
ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut
memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk
Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.” Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Yani berlagak
sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam
kubur 42 tahun … ”

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di
samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini:
19-02-1882 : 30-01-1910″

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya
menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa
ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam
bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita
akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya
kan yah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun
dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun
nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa
menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas
….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau
kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur
…. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata…

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak
menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke
depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan
disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin
ia sudah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik
turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu
hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk
Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan…
Dan apa yang akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Islam, Lentera hati, Umum September 13th, 2007

Ramadhan

Beribu Syukur menggema dari lubuk hatiku
Kerinduan yang ku pendam terkuak dengan hadirmu
Rasa haru dan pengharapan, menyongsong hari nan suci
Keheningan menyusup dalam sanubariku
Kegersangan pikiran
Ketandusan hati
Kebobrokan prilaku

RamadhanMembuat jiwaku semakin jauh darimu

Setiap kau hadir ya Romadhon
Hari-hari dipenuhi senyum
Menit demi menit merupakan momentum yang teramat berharga
Dahaga dan lapar adalah guru dari kesederhanaan
Menyibukkan diri dengan dzikir mendamaikan jiwaku
Berdzikir tentang keagunganmu,
Berdzikir tentang limpahan kasih dan sayangmu
Pada alam semesta
Pada semua makhluk ciptaanmu
Pada diri yang pendosa

Pada hari nan suci ini aku berharap
Semoga aku kembali menemukan hakekat dari kehidupan ini
Untuk selalu berubah dan menuju kesempurnaan
Semoga kau selalu bersama hambamu yang lemah ini
Mengiringi hari-hariku dengan penuh cinta kasih pada semua makhluk hidup
Ampuni segala dosa
Puji syukur kau beri kesempatan sekali lagi padaku
Untuk berjumpa dengan hari nan suci yang penuh dengan ampunan dan rahmatmu
Tarima kasih Tuhan….


Jakarta, 23 september 2006

Republik Kucing

Artis, Lentera hati, Pengunjung, Pribadi, Umum, info September 5th, 2007

 

Pengarang

Berikut kiriman dari : ILuth

http://profiles.friendster.com/sitiluthfiyah

Republik Kucing

Posted by: “ARIF” <…> Mon Sep 3, 2007 5:56 am (PST)

>
>Gentur mengadu nasib ke Jakarta. PRT asal Banten itu sudah 20 tahun kerja
>untuk orangtua saya menunggui rumah di Jakarta Selatan bersama istri dan dua
>anaknya.
>
>Sepekan lalu asmanya kambuh dan dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh
>istrinya. Ia butuh pertolongan pertama, tetapi dokter menyuruh sang istri
>membayar dulu uang Rp 6 juta.
>
>Istrinya tak punya uang sebanyak itu. Ia panik melihat tubuh Gentur telah
>membiru.
>
>Setelah ditolak, ia angkut Gentur ke RS Fatmawati. Namun, Gentur meninggal
>dunia dalam perjalanan di taksi.
>
>Mohon maaf kepada keluarganya, takdir takkan pernah bisa dihindari. Apalagi,
>seperti kata pepatah, “Ibu tiri kalah kejam dibandingkan Ibu Kota”.
>
>Pada zaman edan ini tak ada rumah sakit yang mau rugi dan yang berkuasa
>adalah rupiah. Namun, agar lebih fair rumah sakit sebaiknya pasang
>pengumuman di pintu UGD: “Uang Panjar Enam Juta Rupiah”.
>
>Bukan cerita baru nyawa manusia tak ada harganya di Jakarta ini. Ingat
>tukang beling Supriono yang keliling membawa jenazah putrinya yang berusia
>tiga tahun, Nur Hairunisa, di gerobak sampahnya sendiri?
>
>Ia tak mampu bayar ambulans dan diinterogasi polisi karena dicurigai
>membunuh putri kesayangannya. Sebuah rumah sakit emoh memakamkan jenazah Nur
>karena mengaku tak punya biaya.
>
>Banyak anak coba bunuh diri karena malu tak mampu bayar uang sekolah. Tak
>sedikit anak miskin jadi “cepék man” di tikungan atau pengemis di
>lampu-lampu merah.
>
>Di Jakarta yang berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa ini ada lebih dari
>8.000anak kurang gizi. Total terdapat 1,5 juta anak kurang gizi di
>negara ini.
>
>Di Ibu Kota ada 93.000 kepala keluarga yang miskin. Jika setiap keluarga
>rata-rata terdiri dari empat orang, minimal ada 400 ribuan rakyat miskin.
>
>Gentur, Supriono, Nur, dan anak yang bunuh diri, kurang gizi, atau miskin
>hanya paham slogan “merdeka atau mati”. Mereka memilih mati karena “merdeka”
>tanpa menanggung derita.
>
>Kita, warga, familiar dengan slogan “merdeka atau bayar”. Kalau lupa bayar
>iuran, tak ada yang jaga keamanan, tak ada lampu jalan, dan tak ada yang
>mengangkut sampah rumah.
>
>Dalam acara di stasiun radio Delta, Senin (13/8), ada pendengar bertanya,
>”Apakah kita sudah merdeka?” Saya bingung menjawabnya karena Indonesia sudah
>62 tahun merdeka.
>
>Rupanya masih banyak yang yakin Indonesia masih “dijajah”. Siapa yang
>menjajah kita, mungkin tak sukar menjawabnya.
>
>Kita masih “dijajah” tetangga. Buktinya tiap tahun 100.000 pasien yang kapok
>dengan rumah sakit di sini memilih berobat ke Singapura atau Malaysia.
>
>Kita “dijajah” Malaysia yang usianya 12 tahun lebih muda. Paling tidak
>mereka bangga dengan slogan “Truly Asia” yang “direbut” dari Indonesia.
>
>Kita “dijajah” Singapura yang menampung konglomerat pembawa kabur uang
>negara. Kita sewakan tanah agar Singapura mau mengembalikan mereka.
>
>Kita “dijajah” Vietnam dan Filipina. Perolehan medali mereka di Asian Games
>lebih banyak daripada Indonesia.
>
>Kita “dijajah” Australia. Buktinya mereka dapat rezeki besar dari Celah
>Timor dan pasukannya petantang-peté nténg di Timor Timur, bekas provinsi
>kita.
>
>Kita dua kali “dijajah” Uni Eropa. Kita dipaksa menandatangani perjanjian
>perdamaian dengan GAM, lalu pesawat kita dilarang terbang ke Eropa.
>
>Kita “dijajah” Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa. Turis mereka
>diimbau jangan naik pesawat di sini karena keamanannya tak layak dipercaya.
>
>Kita “dijajah” negara-negara Timur Tengah. Baru-baru ini dua TKI di Arab
>Saudi tewas setelah disiksa majikan mereka.
>
>Dan kita ternyata masih “dijajah” Belanda. Masa gini haré mereka belum
>mengakui tanggal kemerdekaan kita?
>
>Namun, penjajah sebenarnya adalah mereka yang berkuasa. Mereka membanggakan
>”kebebasan berbicara”, tetapi enggak nyandak “kebebasan berpikir” bisa
>menemukan resep memperbaiki bangsa.
>
>Mereka berteriak “bersama kita bisa” walau tahu kemerdekaan akan sia-sia
>tanpa kesejahteraan ekonomi setiap warga negara.
>
>Kemerdekaan ibarat mandi karena kita mesti mengisinya tiap hari. Penguasa
>mandi empat kali sehari supaya kulitnya tetap wangi.
>
>Penguasa membius rakyat menggantungkan cita-cita kemerdekaan kayak burung
>terbang tinggi. Mereka doyan “terbang” studi banding atau berkunjung ke luar
>negeri.
>
>Patriotisme rakyat tak membabi buta, malah jadi pengikat cita-cita yang
>melahirkan bangsa ini. Penguasa nyerocos tentang bahaya musuh, ancaman
>separatisme, “insiden cakalélé”, GAM, atau bendera Bintang Kejora.
>
>Setiap 17 Agustus kita mengenang setiap pengorbanan yang diberikan bagi
>kemerdekaan. Mari kita camkan lagi masa depan Indonesia tak ditentukan
>penguasa, tetapi oleh kita, rakyat yang mencintainya.
>
>Para penguasa bilang, “Ah, kamu salah!” “Saya sudah berkorban. Saya
>begadang, padahal ngantuk. Saya bukan cuma dicintai rakyat, tetapi juga oleh
>diri sendiri,” jawab para penguasa.
>
>Anda, saya, dan rakyat merayakan proklamasi tiap 17 Agustus tanpa parade
>senjata, dentuman meriam, atau tumpeng raksasa. Kita ikut lomba makan
>kerupuk, panjat pohon pinang, lari karung, atau main bola.
>
>Para penguasa mondar-mandir diiringi pasukan lengkap bersirene “ngeong,
>ngeong, ngeong….” Mereka kayak kucing angora yang takut keluar rumah, cuma
>lompat-lompat di meja, tempat tidur, atau sofa.
>
>Indonesia bangsa besar, yang kerdil para penguasa republiknya. Merdeka!