Kasih sayang…

Islam, Lentera hati July 12th, 2008

Ada berbagai penjelasan tenatang kasih sayang, ada yang bilang cinta (atau diatas nya) . kasih sayang menurutku lebih merupakan bentuk aprisasi kita berbagi terhadap sesama yang lebih mengedepankan naluri dan qusnudzon bukannya nafsu ataupun pemaksaan. kerelaan hati untuk berbagi , memberi dan menerima tanpa ada curiga.

ketika kasih sayang ini hilang sebenarnya lebih karena kebendaan, materi , uang atau apapun.. seorang dokter rela dengan tanganya memberikan sebotol susu kepada bayi yang baru lahir.. jari-jari mungil begitu halus dan bersuara lantang ” oek-oek-oek”.. lebih mendepankan kasihsayang nya. Kasih sayang dia sebagai bentuh luapan kasih sayang Dzat sang Kholiq kepada makhluknya.

apakah kita bisa berbagi dengan ikhlas? itulah pertanyaannya

apakah mungkin? Pasti bisa

kasih sayang mu 

Tags:

Islam, Pribadi, Umum March 22nd, 2008

Pernahkah kita berfikir.. atau paling tidak membaca.. apa sebenarnya aktifitas kita yang akan membuat kita kaya/ cepat kaya?. Aku sangat tertarik dengan ceramah di TV BatuTV keerrrr…di radio kencana- hotel montana 2 Malang.

Secara logika - dengan shodaqoh berarti uang berkurang.. dan hilang tapi justru penjelasan beliau sebaliknya

semakin banya yang kita shodaqohkan semakin banyak yang kembali kekita berkali-kali lipat.

sebuah benturan logika akal dengan kekuatan hati dan keyakinan. seperti misteri….

Janji Allah SWT pasti tidak diingkari

“Percaya kah kita?”

Mari Shodaqoh

CERMIN Seorang Pemimpin

Islam, Lentera hati, Pribadi, Umum January 6th, 2008

Anda sudah
mengenal secara mendalam para bawahan? Siapa saja mereka dan, yang
lebih penting, bagaimana kesiapan mereka melaksanakan tugas
sehari-hari. Kalau Anda merasa kurang puas dengan kinerja mereka,
jangan cepat-cepat memvonis dengan kata-kata ‘bos tidak mungkin salah’.

Banyak faktor
yang menyebabkan seorang pemimpin atau atasan tidak dapat memimpin
sebuah tim dengan baik. Ada apa? Bisa jadi, Anda sebagai atasan kurang
mengenal karakter bawahan sehingga potensi dan kemampuan mereka dalam
mengerjakan tugas tidak tergali optimal.

Hal ini
merupakan masalah yang kerap dihadapi sebuah organisasi. Persoalannya,
selama ini pendekatan yang ada lebih banyak menyoroti dari sisi atasan
atau pemimpin. Profil seorang bos dibedah tuntas hingga akhirnya
diperoleh tipe-tipe seorang pemimpin. Ada yang bertipe karismatik, ada
yang membosankan, dan tidak sedikit pula yang bertipe ’semau gue’.

Padahal,
keberhasilan sebuah organisasi juga sangat bergantung pada hubungan
yang dinamis antara atasan dan bawahan. Bahkan, menurut Barbara
Kellerman, pakar masalah kepemimpinan di Universitas Harvard, AS,
kejelian atasan dalam membedakan karakter bawahannya merupakan salah
satu ‘ujian’ yang harus dilewati dengan mulus.

Dalam
tulisannya yang berjudul What every leader needs to know about
followers, Kellerman mengingatkan para manajer bahwa bawahan tidak bisa
dibagi atau dikelompokkan secara ekstrem hanya dalam ‘dua dunia’: hitam
dan putih. Harus ada pisau analisis yang lebih tajam untuk memetakan
para bawahan agar atasan memperoleh gambaran lengkap mengenai mitra
kerjanya tersebut.

Di era serba
digital saat ini, penulis buku Followership: How followers are creating
change and changing leaders itu seperti ingin mengajak atasan merenung
sejenak untuk mencermati dampak perubahan besar di bidang teknologi
terhadap kultur kerja bawahan. Lho, bukankah telepon cerdas, SMS dan
e-mail telah mengubah secara drastis cara dan ‘gaya’ kita bekerja.
Bahkan konsep kantor atau ngantor yang kita kenal selama ini bisa jadi
sudah tidak relevan lagi. Bukankah dengan dukungan teknologi, segala
rapat, pertemuan direksi hingga deal bisnis bisa dilakukan secara
virtual?

Memang betul.
Namun, kalau atasan tidak menguasai masalah dasar bawahannya, semua
fasilitas teknologi niscaya akan sia-sia belaka.

Berbeda dengan
pendekatan yang selama ini dikenal, Kellerman memetakan bawahan
berdasarkan ‘rentang keterlibatan’ mereka di organisasi. Dengan
metodologi ini pakar kepemimpinan tersebut ingin melihat bawahan yang
bertipe ‘nol besar’ (feeling and doing absolutely nothing) hingga
mereka yang dapat dikategorikan sebagai ‘bawahan andal’ (being
passionately committed and deeply involved).

“Saya sengaja
memilih level of engagement tersebut sebagai dasar analisis karena
bobot keterlibatan mereka sangat menentukan hubungan antara atasan dan
bawahan,” ujarnya.

Tidak terlalu
sulit mengamati aspek tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya,
siapa bawahan Anda yang selalu menjadi ‘bintang’ saat rapat
berlangsung? Ingat, bukan si cantik atau si ganteng yang mampu
‘menyihir’ seluruh peserta rapat, tapi mereka yang senantiasa berhasil
membuat rapat berjalan konstruktif berkat ide-ide segarnya, pertanyaan
berbobot yang diajukan atau menyampaikan argumen logis.

Rentang
keterlibatan versi Kellerman melahirkan lima tipe bawahan dengan
tingkah pola yang berbeda. Pertama, terasing (isolates). Kedua, acuh
tak acuh (bystander). Ketiga, terlibat atau berpartisipasi
(participants) . Keempat, aktivis, dan kelima, tipe ‘maju tak gentar’
(diehard).

Tipologi mana
yang paling dominan di organisasi Anda? Rasanya semua tipe tersebut
‘hidup’ di kebanyakan organisasi. Persoalannya, apa tindak lanjut dari
pengkategorian bawahan semacam itu. Dengan mengenal karakter bawahan
secara mendalam, atasan diharapkan bisa menerapkan gaya kepemimpinan
yang lebih pas, terutama terhadap mereka yang bersikap acuh tak acuh
atau terasing.

Tentu ada
sesuatu yang tidak beres bila karyawan yang semula andal dalam
menyelesaikan tugas, tiba-tiba berubah cuek dan menjadi trouble maker.
Jurus apa yang akan Anda pakai agar mereka bisa kembali ke rel semula?

Sumber : “Insight” Edisi Minggu Bisnis Indonesia 16 Desember 2007

Cerita syukur

Islam, Lentera hati, Pribadi, Umum October 30th, 2007

Dari Teman, semoga bermanfaat: Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apa pun yang kudapatkan. Kata - kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita.Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia….. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. …. Tapi anehnya, ketika keinginan itu sudah didapatkan,kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tidak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi”KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang kaya adalah orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh -boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa berbagai keinginan inilah yang menjadi akar perasaan tidak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan kurang berkecukupan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat - sifat baik atasan, pasangan, maupun orang - orang disekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan , ” Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi. ” Ini perwujudan rasa syukur. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Ini sebenarnya suatu keinginan yang wajar. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tetapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur. Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding - bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemana pun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat , pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan - rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta - ganti pekerjaan, hanya agar tidak kalah dengan rekan - rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu,Lulu.. .” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yangdihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelahcintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut -mangggut, tetapibegitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak , ” Lulu, Lulu .., ” ” Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?” tanya pengunjung itu keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu…. “. Hidup kita akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai sorang ibu yangsedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap bahagia.Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ” Saya mempunyai dua anak laki - laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di seberanglautan ini. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapatberjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama sayadi surga……. .” Bersyukurlah. … Bersyukurlah bila kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan.. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan? Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu tentang sesuatu Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.. Bersyukurlah untuk masa - masa yang sulit.. Di masa itulah kamu tumbuh….. Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. .. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.. Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ….Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu … Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat … Itu memberi pelajaran yang berharga … Mungkin mudah untuk kita bersyukur ketika mengalami hal - hal baik …. Namun, hidup yang berkelimpahan justru datang pada mereka yang tetap dapat bersyukur pada masa masa yang sulit … Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif .. Karena itu, temukan cara bersyukur ketika menghadapi permasalahan, maka semua itu akan menjadi berkat bagimu .. “here’s No Fear in Love But Perfect Love Casts Out Fear” “Happy moments; praise God, Difficult moments; seek God Quiet moments; worship God, Painful moment; trust God Every moment; thanks God”

Berfikir tentang mati

Islam, Lentera hati, Pengunjung, Pribadi, Umum September 14th, 2007

Berapa lama Kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di
atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya
memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi,
sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke
kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1915 : 20- 01-1965 ”

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah
ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut
memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk
Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.” Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Yani berlagak
sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam
kubur 42 tahun … ”

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di
samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini:
19-02-1882 : 30-01-1910″

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya
menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa
ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam
bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita
akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya
kan yah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun
dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun
nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa
menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas
….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau
kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur
…. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata…

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak
menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke
depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan
disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin
ia sudah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik
turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu
hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk
Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan…
Dan apa yang akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Islam, Lentera hati, Umum September 13th, 2007

Ramadhan

Beribu Syukur menggema dari lubuk hatiku
Kerinduan yang ku pendam terkuak dengan hadirmu
Rasa haru dan pengharapan, menyongsong hari nan suci
Keheningan menyusup dalam sanubariku
Kegersangan pikiran
Ketandusan hati
Kebobrokan prilaku

RamadhanMembuat jiwaku semakin jauh darimu

Setiap kau hadir ya Romadhon
Hari-hari dipenuhi senyum
Menit demi menit merupakan momentum yang teramat berharga
Dahaga dan lapar adalah guru dari kesederhanaan
Menyibukkan diri dengan dzikir mendamaikan jiwaku
Berdzikir tentang keagunganmu,
Berdzikir tentang limpahan kasih dan sayangmu
Pada alam semesta
Pada semua makhluk ciptaanmu
Pada diri yang pendosa

Pada hari nan suci ini aku berharap
Semoga aku kembali menemukan hakekat dari kehidupan ini
Untuk selalu berubah dan menuju kesempurnaan
Semoga kau selalu bersama hambamu yang lemah ini
Mengiringi hari-hariku dengan penuh cinta kasih pada semua makhluk hidup
Ampuni segala dosa
Puji syukur kau beri kesempatan sekali lagi padaku
Untuk berjumpa dengan hari nan suci yang penuh dengan ampunan dan rahmatmu
Tarima kasih Tuhan….


Jakarta, 23 september 2006

NEWS NEWS NEWS….

Islam, Lentera hati, Pribadi, Umum August 29th, 2007

Dapet kiriman email dari temenku, semoga bermanfaat.. ..

Semalem, nonton news dot com di Metrotv, mr guest nya sungguh membuat haru. Mr Guest yang bernama Pak Waras (lebih tepatnya kayaknya disebut Mbah), dengan penampilan yg lugu dan super polos didampingi istri dan seorang anaknya.

Kenapa dia menjadi special guest star di acara tsb ?
Karena dia ‘makhluk langka’ di jaman sekarang ini.
Kalimat diatas bukan berkonotasi merendahkan tapi justru untuk menyanjung.
Pokoknya two thumbs up deh.

Cerita berawal dari pembagian ganti rugi dari PT Lapindo untuk korban lumpurnya.
Ganti rugi untuk keluarganya ditetapkan Rp 285 juta. Pembayaran pertama kan baru 20%. Uang yang semestinya diterima hanya Rp 56 juta. Namun apa yang terjadi? Rekeningnya membengkak 429 juta , dia bingung. Uang dari mana ??? Nah, dia lalu melaporkan kepada pendampingnya, lalu sama pendampingnya diantarkan ke kantor Lapindo.

Dalam acara news dot com itu ditanya, alasan apa yang mendasari Bapak Waras mengembalikan uang ratusan juta itu?
Jawabnya dengan lugu dan dalam bahasa Jawa (karena dia tidak bisa bahasa Indonesia, si penanya juga pake dalam bahasa Jawa) :
“Kulo wedi dosa pak, niku sanes hak kulo.”

Ogh..begitu mulianya jawabannya, mestinya ini direkam dah diedarkan kepada para koruptor di negara kita ya.
Pak Waras yang notabene bukan orang sekolahan, bukan pejabat yang mengemban amanah rakyat, tapi dia lebih punya hati nurani daripada para pejabat di negara kita, yang hobi menggembungkan rekening pribadinya dari uang yang bukan haknya.

Sebagai tanda terima kasih pihak Lapindo memberi reward menginap di hotel berbintang, tapi lagi-lagi ditolak oleh Pak Waras.
Dengan alasan apa coba ?
Dengan lugunya dia menjawab : “Kulo wedi kadhemen. Mangke yen ten mriko kulo ndak kemutan wedhus2 kulo”

Ogh..nooo… .

Pak Waras, lemah teles, gusti Allah sing bales. nggih
Mungkin didunia ini imbalan untuk Pak Waras gak seberapa.
“Hanya” rumah gratis 40/90 dari PT Lapindo atas kejujurannya itu.
Tapi rumah akhirat jauh lebih besar dan mewah.
Amin.

KEAJAIBAN LEBAH MADU - harun yahya

Islam, Kesehatan, Lentera hati May 12th, 2007

Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah. Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas.

Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur’an:

Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69)

Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini?

Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

Daya Tarik Al-Quran

Islam, Lentera hati May 5th, 2007

Dewasa ini, media-media massa dunia berusaha melakukan propaganda dalam skala luas untuk mendeskreditkan Islam dan menggambarkan Al-Quran sebagai kitab yang sudah ketinggalan zaman. Dengan menggunakan sarana propaganda yang paling canggih, kekuatan-kekuatan imperialis dunia melancarkan berbagai intimidasi terhadap ajaran Islam dengan tujuan mereduksi infiltrasi Islam di dunia Barat. Namun semua usaha mereka itu tidak akan pernah bisa berhasil karena Al-Quran adalah Kitab Ilahi yang paling sempurna sehingga tidak akan ada yang mampu menandingi keunggulan Al Quran., adalah seorang ilmuwan matematika asal Kanada. Selain menjadi anggota dewan ahli di universitas, Miller juga ilmuwan sangat meminati bidang logika dan hal-hal yang logis. Pada awalnya, dia berpikir bahwa Al-Qur’an yang turun 14 abad yang lalu itu hanya membahas berbagai masalah di masa lalu. Seiring dengan menguatnya arus Islam di Barat, Miller terdorong mempelajari Al-Quran lebih mendalam dengan tujuan mencari celah-celah kesalahan Al-Quran dan berusaha membuktikan ketidakotentikan Al-Quran. Miller mengatakan, “Mulai hari itu, saya membaca Al-Quran untuk mencari celah-celah kesalahan kitab ini. Melalui usaha ini, saya berharap dapat mengangkat derajat “kaum dia” di hadapan ummat Islam.” Dikatakannya pula, “Karena Al-Quran diturunkan 14 Abad yang lalu di pasir, saya berpikir bahwa kitab ini sangat terbelakang serta dipenuhi dengan kekurangan. Namun semakin saya membaca Al-Quran, saya malah semakin menemukan kebenaran yang membuat saya terkesima. Aku menyadari bahwa Al-Quran ternyata membahas berbagai masalah yang sama sekali tak ditemukan di kitab samawi lainnya. Kitab ini membuat saya semakin penasaran untuk mempelajari lebih mendalam lagi. Ketika membaca sura An-Nisa’, ayat 82, saya sangat terkejut. Ayat tersebut menyebutkan; Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” Tentunya, hal yang dialami oleh cendekiawan asal Kanada ini bukanlah yang pertama kali terjadi bagi seorang non muslim. Al-Quran adalah samudera yang tak ada batasnya dan mengandung mutiara ilmu yang tak habis-habisnya digali. Sejak 14 abad lalu, para pemikir dan cendikiawan dalam berbagai bidang mengarungi lautan ilmu yang tertuang dalam kitab ini. Namun sedemikian luas dan dalamnya samudera Al Quran, membuat mereka belum mampu menemukan tepi atau akhir dari lautan ilmu ini. Oleh karena itu, mereka hanya bisa pasrah sambil memuji keagungan dan kebesaran Allah Swt. Al-Quran dalam surat Furqon ayat 1 menyebutkan, “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” Sebagai seorang ilmuwan, Dr. Gary Miller memahami bahwa mengenali dan membandingkan berbagai pendapat adalah salah satu metode ilmiah dalam rangka membuktikan kebenaran. Dia juga mengatakan, “Al-Quran dengan ayat-ayat yang sangat lugas mengajak manusia untuk berpikir. Di dunia ini, tak ada seorang penulis pun yang menulis sebuah buku, kemudian dengan penuh keyakinan meminta semua pihak untuk membuktikan kesalahan-kesalahan nya.” Miller juga menyatakan, “Di saat mempelajari Al-Quran, saya menanti ayat yang menyinggung peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Saww, seperti wafatnya Sayidah Khadijah atau kehidupan anak-anaknya. Namun, saya malah dikejutkan oleh surat yang bernama Maryam. Sedangkan dalam kitab Injil dan Taurat, tak ada satupun surat khusus dengan nama Maryam. Selain itu, Al-Quran menyebut nama Isa Al-Masih sebanyak 25 kali, sedangkan kitab ini hanya menyebut nama Rasulullah Muhammmad Saww sebanyak lima kali. Bahkan, tak ada surat yang menyebutkan nama putri atau istri Rasulullah Saww.” Namun, cendekiawan Barat ini masih belum mantap dengan apa yang didapatkannya. Ia pun kembali melanjutkan mencari kesalahan-kesalahan Al-Quran. Kali ini, ia dikejutkan oleh ayat lainnya, yaitu Surat Al Anbiya ayat 30, yang berbunyi, “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup…” Miller berkata, “Ayat ini menyinggung masalah ilmiah yang penemunya mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1973. Ayat ini menjelaskan teori big bang yang menghasilkan penciptaan dunia, langit, dan bintang-bintang.” Miller melanjutkan, “Bagian akhir ayat tersebut menyebutkan bahwa air adalah sumber kehidupan. Ini merupakan salah satu keajaiban penciptaan alam yang baru dipahami oleh sains modern. Ilmuwan modern membuktikan bahwa sel hidup terbentuk dari sitoplasma atau zat separuh cairan lekat, sedangkan bagian inti sitoplasma bersumber dari air. Dengan mempelajari ayat ini, saya sama sekali tidak lagi mempercayai klaim-klaim bohong yang menyebut Al-Quran sebagai buatan Muhammmad Saww semata. Bagaimana mungkin Rasulullah Saww yang tak bisa menulis dan membaca sebelum diturunkannya A-Quran, 1400 tahun yang lalu, tiba-tiba dapat berbicara soal materi dan gas yang membentuk dunia?” Akhirnya, riset panjang ini menyebabkan Dr. Gary Miller tunduk menerima Islam sebagai agama yang benar. Dia kini aktif menulis berbagai makalah terkait mukjizat-mukjizat sains yang tercantum dalam Al-Quran. Di antara karya-karya Miller berjudul “Al-Qur’an Yang Menakjubkan”, “Perbedaan Al-Quran dan Kitab Injil”, dan “Pandangan Islam tentang Metode-Metode Pemberian Kabar Gembira” Di samping berbicara mengenai mukjizat dan keagungan Al-Quran, Dr. Gary Miller juga membahas masalah lainnya. Dia mengatakan, “Di antara mukjizat Al Quran adalah menyampaikan ancaman-ancaman untuk manusia di masa mendatang yang tak bisa diprediksikan oleh manusia. Hal ini tak bisa diprediksi oleh manusia karena manusia seringkali menjadikan eksperimen sebagai tolak ukur kebenaran. Al-Qur’an juga mengidentifikasi sahabat dan musuh ummat Islam. Selain itu, kitab ini juga memperingatkan persahabatan dengan orang-orang musyrik dan mengingatkan bahwa ummat kristiani adalah sahabat yang paling dekat dengan ummat Islam. Lebih dari itu, Al Quran mengemukakan data yang konkrit dan ini adalah di antara metode Al-Quran yang luar biasa.” Menurut Miller, “Al-Quran juga menarik perhatian para pembacanya pada hal-hal yang spesifik, bahkan kitab ini juga menyampaikan informasi-informasi baru. Informasi semacam ini tak pernah disinggung dalam kitab samawi lainnya. Sebagai contoh, surat Al-Imran ayat 44 menyampaikan peristiwa undian untuk mengasuh Sayidah Maryam as. Ayat tersebut menyebutkan, “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” Dikatakannya pula, “Dalam Kitab Injil, jika kita ingin lebih mengetahui sebuah cerita atau mengkaji permasalahan, seringkali kita tidak mendapatkan jawabannya di kitab itu dan bahkan kita harus merujuk sumber-sumber referensi lainnya. Sementara Al-Quran menyatakan, jika seseorang ragu akan kebenaran yang disampaikannya, maka Al Quran sendiri yang akan menjawabnya. Namun, setelah saya mempelajari kitab ini secara detail, saya menyimpulkan bahwa tak seorangpun dapat menanggapi tantangan Al-Quran ini, karena pada prinsipnya, informasi-informasi dalam kitab ini bersumber dari Allah Swt dan berada di luar kemampuan manusia. Kitab ini mengungkap peristiwa masa lalu, saat ini, dan masa mendatang.” Dr. Gary Miller kemudian mengingatkan kaum muslimin, “Wahai ummat Islam, kalian tak mengetahui betapa Allah SWT telah melimpahkan kemuliaan kepada kalian, yang tak dimiliki oleh agama-agama lain. Untuk itu, bersyukurlah karena kalian telah menjadi muslim. Berpikirlah secara mendalam untuk mengungkap kebenaran-kebenaran yang indah dalam Al-Quran. Saya mempelajari Al-Quran secara mendalam, dan kitab inilah yang menyebabkan aku mendapatkan hidayah Ilahi.”

BERHENTILAH MENJADI GELAS

Islam, Lentera hati April 25th, 2007

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan
ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia
ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah
kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang
diminta.

Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang
Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara.
Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari
mulutnya, tapi tak dilakukannya.

Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru , begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari
batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya
ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar
mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana
rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di
atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah
pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya
lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu
meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam
hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya
segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami
sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun
manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan
masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung
dari besarnya qalbu yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa
menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi
sebesar danau.”

“SITI DIAHNI SR” <sitidiahni3@gmail.com>