Republik Kucing
Artis, Lentera hati, Pengunjung, Pribadi, Umum, info September 5th, 2007
Berikut kiriman dari : ILuth
http://profiles.friendster.com/sitiluthfiyah
Republik Kucing
>
>Gentur mengadu nasib ke Jakarta. PRT asal Banten itu sudah 20 tahun kerja
>untuk orangtua saya menunggui rumah di Jakarta Selatan bersama istri dan dua
>anaknya.
>
>Sepekan lalu asmanya kambuh dan dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh
>istrinya. Ia butuh pertolongan pertama, tetapi dokter menyuruh sang istri
>membayar dulu uang Rp 6 juta.
>
>Istrinya tak punya uang sebanyak itu. Ia panik melihat tubuh Gentur telah
>membiru.
>
>Setelah ditolak, ia angkut Gentur ke RS Fatmawati. Namun, Gentur meninggal
>dunia dalam perjalanan di taksi.
>
>Mohon maaf kepada keluarganya, takdir takkan pernah bisa dihindari. Apalagi,
>seperti kata pepatah, “Ibu tiri kalah kejam dibandingkan Ibu Kota”.
>
>Pada zaman edan ini tak ada rumah sakit yang mau rugi dan yang berkuasa
>adalah rupiah. Namun, agar lebih fair rumah sakit sebaiknya pasang
>pengumuman di pintu UGD: “Uang Panjar Enam Juta Rupiah”.
>
>Bukan cerita baru nyawa manusia tak ada harganya di Jakarta ini. Ingat
>tukang beling Supriono yang keliling membawa jenazah putrinya yang berusia
>tiga tahun, Nur Hairunisa, di gerobak sampahnya sendiri?
>
>Ia tak mampu bayar ambulans dan diinterogasi polisi karena dicurigai
>membunuh putri kesayangannya. Sebuah rumah sakit emoh memakamkan jenazah Nur
>karena mengaku tak punya biaya.
>
>Banyak anak coba bunuh diri karena malu tak mampu bayar uang sekolah. Tak
>sedikit anak miskin jadi “cepék man” di tikungan atau pengemis di
>lampu-lampu merah.
>
>Di Jakarta yang berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa ini ada lebih dari
>8.000anak kurang gizi. Total terdapat 1,5 juta anak kurang gizi di
>negara ini.
>
>Di Ibu Kota ada 93.000 kepala keluarga yang miskin. Jika setiap keluarga
>rata-rata terdiri dari empat orang, minimal ada 400 ribuan rakyat miskin.
>
>Gentur, Supriono, Nur, dan anak yang bunuh diri, kurang gizi, atau miskin
>hanya paham slogan “merdeka atau mati”. Mereka memilih mati karena “merdeka”
>tanpa menanggung derita.
>
>Kita, warga, familiar dengan slogan “merdeka atau bayar”. Kalau lupa bayar
>iuran, tak ada yang jaga keamanan, tak ada lampu jalan, dan tak ada yang
>mengangkut sampah rumah.
>
>Dalam acara di stasiun radio Delta, Senin (13/8), ada pendengar bertanya,
>”Apakah kita sudah merdeka?” Saya bingung menjawabnya karena Indonesia sudah
>62 tahun merdeka.
>
>Rupanya masih banyak yang yakin Indonesia masih “dijajah”. Siapa yang
>menjajah kita, mungkin tak sukar menjawabnya.
>
>Kita masih “dijajah” tetangga. Buktinya tiap tahun 100.000 pasien yang kapok
>dengan rumah sakit di sini memilih berobat ke Singapura atau Malaysia.
>
>Kita “dijajah” Malaysia yang usianya 12 tahun lebih muda. Paling tidak
>mereka bangga dengan slogan “Truly Asia” yang “direbut” dari Indonesia.
>
>Kita “dijajah” Singapura yang menampung konglomerat pembawa kabur uang
>negara. Kita sewakan tanah agar Singapura mau mengembalikan mereka.
>
>Kita “dijajah” Vietnam dan Filipina. Perolehan medali mereka di Asian Games
>lebih banyak daripada Indonesia.
>
>Kita “dijajah” Australia. Buktinya mereka dapat rezeki besar dari Celah
>Timor dan pasukannya petantang-peté nténg di Timor Timur, bekas provinsi
>kita.
>
>Kita dua kali “dijajah” Uni Eropa. Kita dipaksa menandatangani perjanjian
>perdamaian dengan GAM, lalu pesawat kita dilarang terbang ke Eropa.
>
>Kita “dijajah” Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa. Turis mereka
>diimbau jangan naik pesawat di sini karena keamanannya tak layak dipercaya.
>
>Kita “dijajah” negara-negara Timur Tengah. Baru-baru ini dua TKI di Arab
>Saudi tewas setelah disiksa majikan mereka.
>
>Dan kita ternyata masih “dijajah” Belanda. Masa gini haré mereka belum
>mengakui tanggal kemerdekaan kita?
>
>Namun, penjajah sebenarnya adalah mereka yang berkuasa. Mereka membanggakan
>”kebebasan berbicara”, tetapi enggak nyandak “kebebasan berpikir” bisa
>menemukan resep memperbaiki bangsa.
>
>Mereka berteriak “bersama kita bisa” walau tahu kemerdekaan akan sia-sia
>tanpa kesejahteraan ekonomi setiap warga negara.
>
>Kemerdekaan ibarat mandi karena kita mesti mengisinya tiap hari. Penguasa
>mandi empat kali sehari supaya kulitnya tetap wangi.
>
>Penguasa membius rakyat menggantungkan cita-cita kemerdekaan kayak burung
>terbang tinggi. Mereka doyan “terbang” studi banding atau berkunjung ke luar
>negeri.
>
>Patriotisme rakyat tak membabi buta, malah jadi pengikat cita-cita yang
>melahirkan bangsa ini. Penguasa nyerocos tentang bahaya musuh, ancaman
>separatisme, “insiden cakalélé”, GAM, atau bendera Bintang Kejora.
>
>Setiap 17 Agustus kita mengenang setiap pengorbanan yang diberikan bagi
>kemerdekaan. Mari kita camkan lagi masa depan Indonesia tak ditentukan
>penguasa, tetapi oleh kita, rakyat yang mencintainya.
>
>Para penguasa bilang, “Ah, kamu salah!” “Saya sudah berkorban. Saya
>begadang, padahal ngantuk. Saya bukan cuma dicintai rakyat, tetapi juga oleh
>diri sendiri,” jawab para penguasa.
>
>Anda, saya, dan rakyat merayakan proklamasi tiap 17 Agustus tanpa parade
>senjata, dentuman meriam, atau tumpeng raksasa. Kita ikut lomba makan
>kerupuk, panjat pohon pinang, lari karung, atau main bola.
>
>Para penguasa mondar-mandir diiringi pasukan lengkap bersirene “ngeong,
>ngeong, ngeong….” Mereka kayak kucing angora yang takut keluar rumah, cuma
>lompat-lompat di meja, tempat tidur, atau sofa.
>
>Indonesia bangsa besar, yang kerdil para penguasa republiknya. Merdeka!
About




Leave a Comment